//
you're reading...
BUDAYA

SAN WILANTARA

 

SAN WILANTARA, SISA KOMIKUS “BAHEULA”

-Matdon –

PIKIRAN RAKYAT,MINGGU 15 APRIL 2012

Foto0181

Dari sekian banyak Komikus atau Cergamis silat kota Bandung yang tersisa dan masih jagjag waringkas adalah San, nama lengkapnya San Wilantara. Umumnya nama-nama komikus silat era tahun 60 ssampei 80-an memakai nama sisngkat seperti San,Yan, Har, Sim, Rim, Kus dan lain-lain, hanya sesekali mereka menulis nama lengkapnya. Kecuali pada R.A. Kosasih, Ganes, Teguh dan Gerdi.

Ditemui di rumahmya di Jl.Ancol Tengah 27 Bandung, San baru saja menyelsaikan komik cerita pahlawan, ternyata ia masih tetap menulis komik, di tengah galaunya komik karya anak bangsa yang tak lagi dilirik anak muda sekarang.

“Saya mulai menulis komik sejak sekolah STM , namun baru bisa diterbitkan tahun 1968,” San mulai bercerita perjalanan karirnya di dunia komik. Pria kelahiran  Bandung  24 pebruari 1948 ini mengaku tertarik menulis komik karena sering membaca komik komik karya RA. Kosasih.

Mula mula ia menulis komik dongeng anak-anak, belajar menggambar untuk ilustrasi komiknya  secara otodidak. Hasrat “ngomik” yang lahir sejak sekolah terus mengebu-gebu, hingga akhirnya sebuah penerbit bernama penerbit Toko Bandung yang terletak di Jl. Alketeri menerbitkannya, San remaja waktu itu menerima honor sangat besar yakni Rp.15.000,-.

Sejak komik Dongeng Anak itu terbit, nama San mulai diperhitungkan, dari tangan San lahir sejumlah komik dongeng anak, silat dan misteri, judulnya antara lain Pendekar Gunung Tenger, Prahara Titisan Hitam, Badik Maut, Jayeng Wadag Irung, Kunci Petaka, Malaikat Neraka,  Pengantin Mayat,  Siluman Sinting dan lain-lain.

Hingga tahun 1985 San telah menyelesaikan 35 judul komik, satu judul rata rata memuat  24 episode. Waktu itu, honorarium seorang komikus sangat menjanjikan. Pada tahun 1976 saja penghasilan San sudah  mencapai Rp.700 ribu per episode, jika sebulan menyelsaikana 4 episode berarti mencapai angka Rp.2,8 juta, sungguh angka yang fantasik!

“Waktu itu kami dibayar  crung creng, begitu selesai komik, langsung dibayar tidak nunggu dulu terbit.  Dalam sebulan saya menyelesaikan 6 hingga 8 episode,. Tiap episode rata-rata honornya 700 ribu,sedangkan harga motor Vespa baru waktu itu hanya 400 ribu,” ujar San, bangga. San satu angkatan dengaan U. Sjah Budin, Jan, Rim, , Har, Kus Bram, Abuy Ravana, dan Judah Nur.

Seiring dengan hadirnya komik Manga asal Jepang, komik-komik silat dan nama San pun tenggelam. Tapi San tetap menulis meski beralih menulis  naskah sinteron. Beberepa sinetron yang ditayangkan di TVRI meraih sukses seperti Ngalonyeng Jero Eunteung, Si Itok Anak Kabayan, dan   Sarkawi.

Menurut San, tenggelamnya komik silat atau komik Indonesia lainnya bukan melulu lantaran kehadiran komik Jepang, tapi akibat penerbit lama sidah tidak ada lagi ditambah penerbit sekarang takut untuk menebitkannya.

“Bagaimana anak-anak muda sekarang mengenal komik saendiri kalau penerbit ketakutan. Padahal ibarat perang, kita harus berani perang melawan komik komik Jepang dengan cara menerbitkan komik karya anak bangsa.” Ungkapnya.

Akibat ketakutan penerbit, San menilai wajar jika kemudian banyak bangsa Indonesia yang menulis komik ala Jepang dan merubah namanya menjadi (seolah-olah) nama penulis Jepang. Bahkan banyak juga anak muda sekarang yang menggambar untuk komik-komik Amerika tanpa memakai nama.

Dalam dunia komik Indonesia kalah oleh Malaysia yang hingga kini masih terdengar gaungnya. “Terus terang saja, jika penerbit besar mau menerbitkan komik karya sendiri dengan ciri khas gambar Indonesia, maka dunia komik Indonesia akan kembali nanjeur.”. tegas San, yakin.

Semangat San dalam menulis komik memang luar biasa, ayah dari delapan anak dan pencipta gambar maskot Komisi Pemilihan Umun kota Bandung pada tahun 2008 ini hingga kini masih menulis dan membuat komik.

San kini tengah mencoba membuat komik kepahlawanan, diantaranya tentang Pahlawan  Muhammad Toha. Sudah 10 episode komik kepahlawanan itu ia selesaikan, namun belum diterbitkan.

Nya eta nungguan penerbit lieur nu wani nerbitkeun lah….”, guraunya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: