//
you're reading...
BUDAYA

MUSIM BOHONG

 

KETIKA MUSIM BOHONG TIBA

Oleh : Matdon

PIKIRAN RAKYAT Kamis 31 Mei 2012

 

Jengkol aya usumna, tapi ekol mah euweuh usumna

Tafsir pribahasa Sunda ini kurang lebih “Buah jengkol  itu ada di pasar-pasar jika  musim panen  tiba, sedangkan sipat bohong manusia tidak pernah mengenal musim”. Pertanyaannya kemudian, kalau musim bohong, apakah berada pada musim musim tertentu?.

index

Bohong memang tidak mengenal waktu dan usia, jika jiwa seseorang terguncang akibat berbagai persoalan hidup, maka saat itu pula ia akan terseret pada kebohongan, Jika kepentingan mengalahkan segalanya maka ia akan jadi pembohong,  tentu saja bohong mereka adalah bohong kreativ yang kadang memalukan.Pemilu Legislatif dan Pilkada musim lalu  sudah kita lupakan (tapi kita tidak pernah melupakan janji para anggota dewan dan kepala daerah terpilih –  yang hingga kini – masih belum terwujud), dan sebentar lagi bakal ada Pilkada dimana-mana, termasuk di Jawa Barat, untuk menentukan kembali siapa Kepala daerah yang kalah dan menang. Dari situlah akan lahir orang-orang stress, gila dan bohong.

Dari sejumlah Calon pemimpin yang mengumbar birahi politik , tentu sejak kemarin sudah sudah menghabiskan uang hingga miliaran rupiah, mungkin juga sekedar ratusan juta untuk membentangkan spanduk di seantero kota dan desa. Uang itu entah milik sendiri atau pinjam kiri kanan, atau sumbangan partai dan pengusaha, atau mungkin juga ada yang menjual tanah, rumah, sawah, dan perhiasan, ada juga yang termasuk katagori calon  dluafa yang mengandalkan takdir dengan dana terbatas, mungkin hanya habis puluhan juta rupiah.Inilah persoalan yang akan menyebabkan para calon kepala daerah siap berbohong dalam arti yang sebenarnya.

Mereka bisa berani melupakan halal haram, tak peduli dosa atau tidak, mereka siap “menggila” menulis kebohongan lewat teks yang tertulis di spanduk-spanduk. Sungguh sebuah kebohongan yang melukai demokrasi.

Pilkada belum dimulai, tapi spanduk sudah bertebaran dimana-mana…

Foto foto mereka ngajeblag.  Teks-teks kebohongan berdesakan diantara foto mereka, seperti sedang mencoba menjual diri pada publik. Menjual diri di dunia politik memang membutuhkan biaya yang sangat besar, yakni uang dan napsu kekuasaan.  

 

Birahi Politik

Memasuki wilayah politik dan kekuasaan, adalah memasuki legalitas kebohongan yang tersusun rapi. Memasuki era pemilihan Gubernur atau walikota dan Bupati,adalah memasuki wilayah impian dan harapan. Dan ketika rakyat disibukan dengan kampanye, para calon pemimpin tertingi pun sibuk memasuki wilayah wilayah-janji yang biasanya berisi kebohongan, impan dan harapan, mereka sibuk masuk pasar,  sesuatu yang tidak pernah dilakukan saat sedang berkuasa, ada yang sibuk naik ojeg dan delman, sibuk membuka festival seni dan lain-lain ; Sebuah aktivitas yang tdak pernah mereka lakukan sebelumya,. Inilah (kebohongan) kampanye!

Tentu saja rakyat sudah faham dengan semua ini, faham bahwa mereka sedang dibutuhkan untuk memuluskan jalan calon-calon pemimpin bisa naik ke pelaminan kekuasaan , Rakyat (miskin) juga sedang menyadari penuh bahwa mereka tidak butuh apa-apa kecuali harga minyak, bawang cabe, sayuran dan lain-lain murah. Bagi rakyat mungkin tak peduli siapa pemimpin mereka, karena yang penting rakyat bisa makan, sekolah gratis, biaya dokter tidak mencekik dll.

Ya, politk merupakan sebuah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat . Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara. Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik. Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain: kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik, dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik dan kebohongan.

Tapi di sisi lain politik adalah melupakan segala tetek bengek kejujuran, Jadi dalam dunia politik,bohong itu ”wajib” atau paling tidak ”Fardu Kifayah”.  

 

Dari situlah nati akan lahir penyakit yang oleh Psikolog Prof. Zakiah Daradjat disebut sebagai Schizophrenia, yakni penyakit jiwa yang menyebabkan kemunduran kepribadian, atau terkena Paranoia, sebuah jenis sakit jiwa dimana ia  merasa dirinya orang besar tidak ada bandingannya, yakin bahwa dirinya pemimpin besar atau bisa jadi  mengaku Nabi. Biasanya orang ini tidak mau mengakui kesalahan  atau kekurangannya, selalu melempar kesalahan pada orang lain, dan segala kegagalannya disangkannya akibat dari campur tangan orang lain.

Pilkada belum dimulai, tapi spanduk sudah bertebaran dimana-mana..

Jangan pernah heran dengan semua peristiwa yang terjadi,  karena ini Indonesia, negeri  gamang  negeri gelisah,. Jangan heran, ini negeri Indoneia men!!, penuh janji semanis permen!.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: