//
you're reading...
BUDAYA

MANG HASAN

 Mang Hasan, Ironi Seniman Tradisi

 Oleh Matdon

Pikiran Rakyat Minggu 12 Desember

mang hasan5

“ULAH nyebat guru ka abdi mah, da abdi mah teu tiasa nanaon.” Kalimat itu keluar dari mulut Mang Hasan (85), seorang tukang sapu di Jalan Gudang Selatan Bandung, tepatnya di jalan raya pinggir rel kereta api, tidak jauh dari rumahnya yang hanya sepetak. Itu pun rumah anaknya bernama Julia. Ia hanya numpang. Pernyataan itu membuat Ine Arini terhenyak dan nyaris meneteskan air mata.

Siang itu, Saya, Herry Dim (pelukis), Ine Arini (penari), dan Hendi Afriyanto (dosen STSI Bandung) sengaja mendatangi Mang Hasan untuk “melacak” keberadaannya setelah puluhan tahun nama itu lenyap dari peredaran dunia seni Sunda, dunia yang pernah membesarkan nama Mang Hasan sebagai penabuh kendang ternama pada zamannya.

Begitu duduk di alas tikar yang sudah lusuh, Ine Arini langsung menyebut jati diri dan menuturkan bahwa ia murid Mang Hasan saat masih aktif di kelompok sandiwara Sunda, Sri Murni. Hanya memerlukan beberapa detik, ia mengingat nama Ine. Ia langsung menyambutnya dengan gembira dan spontan merendah dengan kalimat tadi.

Kalimat Mang Hasan itu membuka perbincangan kami, mengurai perjalanan Mang Hasan sejak ia lahir hingga menjadi penabuh kendang untuk sejumlah dalang kahot di Jawa Barat dan penabuh kendang tetap Sri Murni.

Bagi para dalang seperti Dalang Mama Suhaya, Dalang Partawijaya, Dalang Takrim, Dalang Ganda Atmadja, Dalang Elan Disastra, hingga Dalang Abah Sunarya (ayah dalang Asep dan Ade Sunandar Sunarya), diiringi tabuhan kendang Mang Hasan menjadi kebanggaan tersendiri karena ia sangat hafal keinginan semua dalang dalam menentukan hentakan irama. Tak pelak lagi, Mang Hasan menjadi satu-satunya penabuh kendang yang sering di-booking pada era 1940-an hingga 1970-an.

Dari penabuh kendang para dalang, Mang Hasan beralih menjadi panabuh kendang tetap di Sri Murni sejak 1952. Di situlah Mang Hasan kerap manggung dan sesekali mengajarkan tari kepada siapa saja yang mau. Sampai akhirnya pada 23 Juli 1973, markas Sri Murni yang terletak di samping Pasar Kosambi terbakar, seiring kabar akan direnovasinya pasar tersebut oleh Wali Kota Bandung. Pasar Kosambi terbakar beberapa hari setelah semua pemain dan kru Sri Murni melakukan aksi unjuk rasa agar pasar tidak direnovasi karena mereka tidak memliki tempat selain di sana. Pemerintah kota saat itu pernah berjanji akan merelokasi markas Sri Murni, tetapi janji itu belum ditepati sampai Sri Murni bubar.

Sejak saat itulah, Mang Hasan terlunta-lunta, kendang kesayangannya dan seperangkat gamelan musnah dilahap si jago merah. Akan tetapi, Mang Hasan tak pernah mengeluh, seperti seniman tradisi lainnya yang kerap kita dengar selalu pasrah dan menerima hidup apa adanya demi menjalani lakon kehidupannya. Karena tak pernah mengeluh itulah mungkin hingga kini Mang Hasan tidak pernah “ditolong” oleh pemerintah, walau hanya sekadar berobat untuk menyembuhkan sebelah matanya yang sakit dan nyaris tak melihat lagi.

Empat tahun sudah Mang Hasan menempati rumah anaknya, setelah sebelumnya hidup tak menentu karena orang sudah tidak mengenalnya lagi, karena tawaran manggung tidak ada sama sekali, karena Sri Murni bubar, karena janji pemerintah tak terdengar lagi.


KEBERLANGSUNGAN hidup seseorang termasuk seniman memang ditentukan oleh ke-prigel-an seniman itu sendiri, tetapi Mang Hasan adalah sebuah sejarah. Ia tak bisa diabaikan begitu saja ketika lahir tokoh lainnya. Ia sangat berjasa bagi kehidupan seni tradisi. Lagi pula keadaan Mang Hasan seperti sekarang karena “dikondisikan” oleh–salah satunya–akibat kebakaran Pasar Kosambi.

Mang Hasan memang tidak punya bukti riil lewat dokumentasi, kecuali dua kaset rekaman kendangnya. Akan tetapi, naas, begitu ia menyodorkan dua kaset itu dan dicoba diputar ternyata hanya rekaman lagu pop yang suaranya sudah ngageol. Kekecewaan tampak pada raut wajahnya. Kami pun kecewa tak bisa mendengar suara dan irama kendang tabuhannya. “Euh….jigana mah aya nu nukeurkeun, diinjeum meureun,” gumamnya ngahelas.

Mang Hasan adalah sebuah ironi kehidupan seniman tradisi–karena diyakini–masih banyak seniman yang pernah berjasa bagi kotanya kini hidup melarat, meski sebenarnya bagi Mang Hasan tidak butuh perhatian atau ia harus manggung lagi. Akan tetapi, paling tidak– ia harus menjalani hidup layak. Bayangkan, selama puluhan tahun ia tersingkirkan dari sejarah di tengah hiruk pikuknya seniman yang mendapat projek manggung dimana-mana dan glamornya acara kesenian yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Pada umumnya, seniman tradisional lebih disebut sebagai seniman aptitude atau seniman yang mempunyai bakat bawaan sejak lahir dan sejarah selalu mencatat seniman ini akan berakhir dengan kemiskinan (meskipun tidak semuanya seperti itu). Ini tentu saja jauh berbeda dengan seniman tradisional produk perguruan tinggi yang pandai membuat proposal untuk menghidupkan seni tradisi sekaligus menghidupi diri sendiri (meskipun tidak semuanya seperti itu).

Akan sangat ironis lagi jika kondisi ini diperparah dengan lahirnya kebijakan-kebijakan semu penguasa yang selalu mengklaim “kami peduli terhadap seni tradisi”, sedangkan seniman tradisi (ter/di) lupakan.

Saya pikir, sejak sekarang kita harus memulai melacak keberadaan dan kehidupan para tokoh seniman tradisi yang terlupakan agar kota ini tidak terlalu lamokot ku dosa–minimal menghormati dan memuliakan sisa-sisa hidup mereka. Setega apakah kita membiarkan Mang Hasan si penabuh kendang itu kini harus menyapu jalan tiap pagi? Sementara tubuhnya sudah renta, sebelah matanya nyaris buta.***

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: