//
you're reading...
BUDAYA

KOTA DAN FESTIVAL

KOTA DAN FESTIVAL

oleh :Matdon

Kompas 9 Juni 2010

fest

Sebut saja Pasar Seni ITB, sebuah pertemuan seni musik, sastra, tradisi, niaga, dan lain-lain yang penyelenggaraannya tersendat-sendat.

Lalu, lahir berbagai festival khusus, seperti festival musik, Pesta Sastra, festival monolog, festival ini-itu, serta Dago Festival yang kemudian wafat tanpa kuburan.

Setelah itu, muncul Kemilau Nusantara, Helarfest, Braga Festival, dan sejumlah festival lain. Namun, ternyata itu tak cukup menjadi ciciren festival yang permanen karena belum menjadi kekuatan utuh bahwa itulah festival Kota Bandung. Semua penyelenggaraan tersebut tidak gagal, tetapi belum menjadi trademark yang mentradisi, seperti festival di Solo, Bali, Yogyakarta, atau kota-kota lain di Indonesia.

Sebagai catatan kecil, saya agak kaget ketika Braga Festival semula akan dijadikan untuk ngamumule jalan mengembalikan citra Kota Bandung sebagai kota seni budaya. Namun nyatanya pengelolaan festival yang semrawut membuat Braga Festival tak memiliki ruh.

Kemilau Nusantara juga tak berhasil menjadi festival ajek. Ia terjebak seperti bazar Agustusan di kecamatan dan malah menyisakan masalah bagi penyelenggara (EO) yang konon merugiratusan juta rupiah.

Seperti saya sampaikan, rupanya banyak juga acara berbau festival yang tak hidup lagi di Bandung. Sebut saja Pesta Sastra yang rencananya diadakan satu tahun sekali, tetapi ternyata hanya mimpi. Bandung Art Event yang digelar tahun 1998 menurut rencana digelar dua tahun sekali, tetapi mati. Festival Teater diimpikan digelar dua tahun sekali, tetapi hingga kini tak terdengar lagi. Ah, mungkin masih banyak festival yang hanya digelar sekali dan mati. Monoton

Festival di Bandung selalu begitu. Kalaupun ada yang bertahan, acaranya selalu monoton dan terjebak pada rutinitas semu. Misalnya, yang hadir dan tampil hanyalah pelakon yang kenal dekat dengan EO yang bersangkutan serta dianggap kurang mumpuni, kurang menghibur, apalagi menjadi kesadaran kolektif masyarakat.

Mungkin (tetapi harus) dan sudah saatnya semua festival di Bandung ditangani oleh mereka yang benar-benar paham dan ahli di bidangnya. Jadi, Bandung akan memiliki festival yang dapat dinikmati semua kalangan masyarakat dengan sajian yang menarik dan global.

Pasalnya, selama ini berbagai festival di Kota Bandung belum memperjelas bahwa Kota Bandung merupakan kota yang memiliki festival ajek dan pasti. Beberapa festival di Kota Bandung berakhir dengan kekecewaan masyarakat. Kekecewaan itu disebabkan setiap festival atau perayaan apa pun sering diiringi janji bahwa acara itu akan berlangsung satu atau dua tahun sekali. Nyatanya tidak demikian. Festival itu hanya dinikmati segelintir masyarakat.

Sejumlah festival yang sudah ada, seperti Bandung Dance Festival, Braga Festival, Kemilau Nusantara, Helarfest, festival musik, festival makanan, atau festival sejenis, masih tetap harus dipertahankan. Namun, harus lahir festival dengan tema besar yang merangkum semua festival yang sudah ada, tentu dengan pengelolaan lebih baik.

 

Festival Permanen

Barangkali kita bisa mencontoh geliat Lapangan Gasibu setiap hari Minggu. Sesungguhnya pasar Gasibu merupakan ajang festival yang luar biasa, di mana Lapangan Gasibu dan Jalan Diponegoro menjadi ruang pertemuan publik gratis tanpa dikomandoi EO. Gasibu adalah potret festival permanen yang indah.

Di sana ada banyak orang berkomunikasi. Ada keterlibatan emosi warga, atmosfernya sangat terasa, serta muncul gairah hidup dan perasaan gembira. Sebab, sebuah festival adalah berkumpulnya kegembiraan masyarakat dalam acara yang di dalamnya ada musik, peniagaan, sastra, seni, dan atau apa pun.

Festival adalah rasa syukur komunitas manusia di antara penat pekerjaan. Seperti lanskap tubuh yang harus diurus agar indah, festival mempertontonkan estetika hati manusia secara teratur dan tentu saja ini merupakan kekayaan budaya yang sangat mahal bagi sebuah kota di dunia. Festival juga mampu menyadarkan manusia bahwa mereka adalah makhluk sosial.

Jika saja Bandung memiliki festival besar yang permanen, sudah dapat dipastikan hal itu akan menjadi peradaban dahsyat, gambaran kebudayaan yang jernih. Sebab, festival merupakan pekerjaan bersama perorangan, lembaga, lembaga swadaya masyarakat, organisasi massa, pedagang, rakyat, dan pemerintah. Festival harus menjadi tujuan peradaban dan kebudayaan yang dapat menyirami, memelihara, dan tumbuh menjadi salah satu ikon Kota Bandung.

Pemerintah tampaknya harus mulai menyadari untuk menyinergikan semua kekuatan dalam membangun atmosfer festival dan konsistensi penyelenggaraan yang baik sebagai kalender acara tahunan.


 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: