//
you're reading...
BUDAYA

KOMIK CIATEUL

KOMIK “CIATEUL” MASIH ADA

Oleh: Matdon

                  PIKIRAN RAKYAT, Minggu 15 April 2012

index}

Pernah membaca  komik  silat dan pewayangan?

Dulu komik jenis itu sangat digemari nasyarakat dan mengalami masa kejayaan.

sebut saja misalnya  “Jampang Jago Betawi” Kaya Ganes, “Pembalasan Siluman Kelelawar” (Kus Bram),“Kelelawar Bersayap Tunggal”, “Teror Macan Putih”, “Sebuah Noda Hitam”, “Tunggu Aku Di Pintu Eden” (Jan Mintaraga ), “Gina Vs Bidadari Istana Syetan”, “Gina Vs Siluman Ular” (Gerdi Wk), “Sekutu Setan”, “Merpati Berbisa” (Han Prahara), Atau  “Buku Harian Monita”, “Kabut”, “Kaktus” (Sim) Dan “The Goodfather 1800” (Teguh) serta Bharatayudha”, “Raden Parikesit” (RA.Kosasih).

 

Komik dengan judul-judul tadi mungkin terasa aneh dan tak dikenal oleh mereka yang lahir tahun 1980-an atau awal 90-an. Padahal pada masanya komik-komik ini sangat terkenal dan digemari masyarakat, dimanakah komik komik itu kini berada?, sebab yang kita temui di toko-toko buku besar, yang ada hanya komik manga Doraemon, Naruto, Detektif  Conan, Candy2, Sinchan dll.

Tenang, anda yang masih kangen pada komik pewayangan dan silat, jalan-jalanlah ke kawasan Ciateul Bandung (Jl. Inggit Garnasih), lalu berhentilah di sebuah toko bernama Maranatha tepatnya di jalan Ciateul 148, disana akan ditemukan komik-komik jadul karya komikus jadul pula. Karena letaknya di Jl.Ciateul, untuk memudahkannya banyak orang menyebut “Komik Ciateul”

Toko Maranatha nama yang tak asing bagi nama toko sekaligus penerbit spesial komik, berdiri pada tahun 1963, perintisnya bernama Markus Hadi (alm). “Dari dulu hingga sekarang kami tetap menerbitkan buku buku komik jadul, namun karena pengarangnya sebagian sudah meninggal dan sebagian sudah tidak produktif lagi, jadi kami hanya mencetak ulang karya lama,’ ujar Erlina(75 tahun), istri almarhum Markus Hadi yang kini meneruskan keberadaan Maranatha.

Menurut Erlina, ketertarikan suaminya terhadap komik dimulai sejak melihat peluang bisnis komik saat itu sangat bagus, sehingga  pada tahun  1971 Maranatha mulai mencetak komik silat dan wayang, khususnya karya RA. Kosasih yang dikenal sebagai Bapak Komik Indonesia. Keberhsailan RA. Kosasih mengangkat tema lokal pewayangan  Ramayana dan Mahabrata pada tahun 50-an membuka mata dunia bahwa Komik Indonesia harus diperhitungkan. 

Menurut Erlina, Komik di Indonesia pernah menjadi raja di negerinya sendiri, sebelum akhirnya datang era komik para superhero Amerika,  komik-komik action-comedy dan terakhir komik Jepang.

                                                                        ***

Sejarah mencatat, komik atau Cergam (Cerita Bergambar) di Indonesia mulai dikenal pada awal tahun 1930-an saat koran terbitan Belanda memuat komik-komik Flash Gordon. Selain itu, komik-komik asal Amerika menjadi suplemen utama mingguan suratkabar yang beredar di Indonesia, seperti Tarzan dan Phantom.

Hingga akhirnya muncullah R.A. Kosasih, yang mencoba mentransformasikan beberapa karakter pahlawan super itu ke dalam selera lokal. Sebut saja komik dengan tokoh Sri Asih, adalah imitasi dari Wonder Woman. Selain Kosasih Komikus local lainnya memnciptakan Siti Gahara, Puteri Bintang, Garuda Putih and Kapten Comet, yang mendapatkan inspirasi dari Superman dan petualangan Flash Gordon.

Adaptasi tokoh kepahlawanan komik asing ke dalam komik Indonesia menuai kritik tajam kaum berpendidikan,  karena itu sebuah sejulah penerbit Bandung dan Jakarta mencari suasana baru dengan melirik komik yang berorientasi khazanah kebudayaan nasional. Kemnbali nama RA. Kosasih muncul dengan cerita-cerita wayang Sunda dan Jawa .

Setelah itu para komikus ta menyia-nyiakan kesempatan ini alam mengeksplorasi gayanya masing-masing, khususnya cerita wayang dan silat, sehingga lahir nama-nama Han, Man,  Jan,San,Har, Sim, Gerdi, Kus, Urip, U.Sjah, dan lain-lain. (Menurut Erlina, jumlah komikus yang diterbitkan Marantaha Bandung sekitar 20 orang).

 “Nah waktu Maranatha turut menerbitkan komik RA.Kosasih dan komikus-komikus baru, komo harita mah rame pisan ku karya Lima komikus The Big Five,” cerita Erlina seraya menyebutkan The Big Five itu adalah Jan Mintaraga, Ganes T.H., Sim, Zaldy, dan Hans Jaladara. Setelah itu diluar kota Bandung lahir pula Djair dengan cerita  “Jaka Sembung” dan Hans Penulis “Panji Tengkorak”. Kedua tokoh dalam komik ini makin terkenal setel;ah diangkat ke film layar lebar.

Kini komik-komik silat itu sudah dilupakan orang, penerbit komik silat pun sudah tidak berani lagi memproduksi dengan alasan komik Jepang lebih menjanjikan. Tinggallah Maranatha yang tetap setia. Erlina yakin suatu saat  komik silat dan pewayangan akan dicari lagi.

Sampai saat ini, ada saja yang mencari komik silat dan wayang, walaupun jumlahnya tidak sehebat tahun 1960 sampai awal tahun 1990. Itupun hanaya pembeli yang ingin bernostalgia membaca komik. Namun Erlina optimis. “Biar sepi pembeli, kita tetap bertahan, siapa tahu kesadaran akan nilai-nilai moral dalam komik dulu bisa tumbuh kembali,” gumannya.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: