//
you're reading...
BUDAYA

BRAGA FESTIVAL 2009

BRAGA FESTIVAL GITU GITU AJAH!

oleh :Matdon

                                                                                       Sinar Harapan, Desember 2009

brr

Puluhan pengendara sepeda ontel datang ke Braga Festival Minggu (27 Desember 2009), mereka diundang oleh panitia untuk memeriahkan festival ini. Panitia berjanji akan memberi mereka makan siang, bukan honor.

Namun hingga sore tiba, ketika acara pembukaan sudah dibuka, tak seremeh pun meraka diberi makan oleh panitia. Penasaran mereka menanyakan “jatah makan” pada Diro Aritonang selaku panitia, oleh Diro dilempar ke salah seorang panitia lainnya, oleh panitia lain komunitas sepeda  ontel yang jauh-jauh datang dari Ciparay ini dilempar ke Martha, yang juga masuk jajaran panitia.

Sia-sia!!, jatah makan tak sampai jua, dengan kecewa mereka pun pulang.  Itulah salah satu peristiwa yang terjadi pada pembukaan Braga Festival 2009 yang akan berlangsung hingga akhir tahun ini.

Ada cerita lain, Sambutan tertulis Gubernur Jawa Barat yang dibacakan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Jabar Wawan Ridwan, tidak tamat dibacakan karena Wawan keburu batuk-batuk, “Maaf saya tidak bisa melanjutkan membacakan sambutan Gubernur,” katanya seraya tergopoh-gopoh turun panggung.

Cerita lainnya ditulis seorang pengunjung dalan jejaring Facebook berbunyi “Taufik Faturahman, seorang Sudonger (Sulap dengan Dongeng) menyelamatkan rasa bete selama hari pertama Braga Festival 2009. Tenda-tenda rusak, barang dagangan basah, beberapa acara batal meski di dalam ruangan”

Yang aneh lagi, tidak ada pergelaran seni sunda yang menjadi ikon kota Bandung, malah muncul reog ponorogo.

Dalam pantauan, Braga festival mirp dengan bazaar bulan ramadhan, sepanjang jalan Braga lebih banyak dijejali para pedagang pakaian, oleh-oleh dan kuliner ketimbang mempertontonkan ikon kota Bandung yang sesungguhnya. Bahkan pada beberapa peristiwa panggung hanya beberapa saja yang menampilkan seni budaya daerah khas Bandung.

Melihat kenyataan yang ada, Braga Festival tak ubahnya  dengan pasar kaget Gasibu yang digelar setiap hari minggu, bahkan mungkin lebih rame pasar kaget Gasibu. Sesungguhnya pasar Gasibu merupakan ajang festival yang luar biasa, dimana lapangan Gasibu dan jalan Diponegoro menjadi ruang pertemuan publik, gratis dan tanpa dikomanoi oleh EO (Event Organizer). Gasibu adalah potret Festival permanen yang indah.  

Agak kaget juga ketika Braga Festival yang semula akan dijadikan sebagai “ngamumule” jalan itu, mengembalikan citra kota Bandung sebagai kota seni budaya, namun nyatanya pengelolaan festival yang  yang semrawut membuat Braga Festival tak memliki “ruh” sebagai senuah kota budaya.

Kondisi ini, semakin memperjelas bahwa  kota Bandung merupakan kota yang tidak memiliki festival yang ajeg dan pasti. Pesta atau perayaan apa pun di kota Bandung, selalu berakhir dengan kekecewaan masyarakat. Kekecewaan itu pertama lantaran setiap festival atau perayaan apa pun, sering diiringi janji bahwa acara ini akan berlangsung setiap satu atau dua tahun sekali, nyatanya tidak demikian.

Contoh  ”Pesta Sastra” yang rencananya satu tahun sekali hanya mimpi, ”Bandung Art Event” hanya janji belaka, ”Festival Teater”, ”Pesta Ini”, ”Pesta Itu”, dan lain-lain, hanyalah sebuah janji yang tidakkonsisten, entah apa penyebabnya.

Kedua, setiap festival yang ada, jika itu bertahan, selalu monoton dan terjebak pada rutinitas semu. Misalnya, yang hadir dan tampil hanyalah pelakon yang kenal dekat dengan event organizer  bersangkutan, serta dianggap kurang mumpuni dan menghibur apalagi menjadi kesadaran kolektif masyarakat.

Meski harus  diakui pula, ada  memang yang berkesan dengan Braga Fsetival, seperti yang dialami A Sohery, penikmat lukisan dan pengelola Galeri Arcamanik, menilai Braga Festival menjadi tempat untuk mengembalikan citra Braga sebagai Parijs van Java. Sesuai dengan profesinya, ia banyak menampilkan lukisan yang menggambarkan Jalan Braga tempo dulu.

Pada sebuah media cetak Tribun Jabar Soheri mengatakan, “Ada kawan kami yang khusus melukis tentang Braga. Kami ingin menceritakan kembali ke masyarakat, Braga itu adalah Eropanya orang Indonesia. Bangunan dan isinya sama persis seperti di Eropa.”

Iwan Bahari (40), pengelola stan Mustika Alam, merespons positif acara tahunan ini. Di tempat ini, ia bisa memperkenalkan ke masyarakat beragam kerajinan buah labu dan brenuk yang disulap menjadi tas unik. Beberapa di antaranya dikombinasikan dengan tanduk domba sebagai penghiasnya.

Nah, sudah saatnya semua festival di Bandung ditangani oleh mereka yang benar-benar memahami dan ahli di bidangnya. Sehingga Bandung akan memiliki sebuah festival yang dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat dengan sajian yang menarik dan global.

****

Adapun Festival Dago, hanyalah sebuah pemanfaatan malam minggu yang sudah ada, sebab saya yakin jika festival itu diselenggarakan di luar malam minggu dan bertempat tidak di Dago, akan lain jadinya, kekurangan pengunjung atau respons masyarakat akan terasa minim.

Enam tahun yang lalu, saya masih ingat dalam sebuah dialog dengan Wawan Husen , saya katakan pada Kang Wawan, bahwa setiap ada festival, pesta atau perayaan apa pun di kota Bandung, selalu berakhir dengan kekecewaan masyarakat. Kekecewaan itu pertama lantaran setiap festival atau perayaan apa pun, sering diiringi janji bahwa acara ini akan berlangsung setiap satu atau dua tahun sekali, nyatanya tidak demikian.

Contoh  ”Pesta Sastra” yang rencananya satu tahun sekali hanya mimpi, ”Bandung Art Event” hanya janji belaka, ”Festival Teater”, ”Pesta Ini”, ”Pesta Itu”, dan lain-lain, hanyalah sebuah janji yang tidak konsisten, entah apa penyebabnya.

Kedua, setiap festival yang ada, jika itu bertahan, selalu monoton dan terjebak pada rutinitas semu. Misalnya, yang hadir dan tampil hanyalah pelakon yang kenal dekat dengan event organizer bersangkutan, serta dianggap kurang mumpuni dan menghibur apalagi menjadi kesadaran kolektif masyarakat.

Adapun Festival Dago, hanyalah sebuah pemanfaatan malam minggu yang sudah ada, sebab saya yakin jika festival itu diselenggarakan di luar malam minggu dan bertempat tidak di Dago, akan lain jadinya, kekurangan pengunjung atau respons masyarakat akan terasa minim.

Saya coba lemparkan kritik itu pada Wawan, tapi kritikan itu ditepisnya, alasannya, ia ingin menjadikan kota Bandung sebagai kota festival yang tidak pernah berhenti dari denyut pertunjukan seni. Dago Festival akan menuju ke arah sana, ujarnya.

Kenyataan, dua kali Dago Festival berlangsung, benar-benar menjadi pelengkap penderita malam minggu. Performace art para seniman di salah satu titik Dago menjadi tidak menarik lagi kebanyakan pengunjung. Lalu Festival ini hilang.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: