//
you're reading...
BUDAYA

FESTIVAL BRAGA 2006

BRAGA FESTIVAL 2006

SERUMPUN BAMBU SEJUTA MAKNA

oleh ; Matdon

 Sinar Harapan 27 Desember 2006

Jalan-Braga-Tempo-Doeloe-Toko-Luijks

 

 Setelah sukses dengan Braga Festival di tahun 2005, kembali hadir perhelatan besar di Kota Bandung, Braga Festival 2006 yang diselenggarakan di penghujung Desember, dari tanggal 27 hingga 29, di sepanjang Jalan Braga. Braga Festival merupakan ajang yang diharapkan bisa lebih membuat masyarakat mengingat Braga sebagai jalan yang memiliki nilai sejarah cukup tinggi di Kota Bandung.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Braga Festival kali ini ide awalnya terinspirasi dari lingkungan, hingga mengambil konsep eco system. Maka, tema “Serumpun Bambu SejutaMakna” pun digulirkan. Ini sebagai salah satu celah untuk mengangkat danmemopulerkan bambu dan manfaatnya di masyarakat.

Menurut Wawan Juanda, kreator Braga Festival 2006, pemilihan tema ini diambil karena bambu memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Dikatakannya, Indonesia dan khususnya masyarakat Jawa Barat memiliki koleksi bambu terbanyak di dunia, tetapi karya-karya bambu Indonesia kurang dikenal di mancanegara. Ia bertambah prihatin setelah mendengar bahwa musik angklung yang sudah puluhan tahun dikembangkan Mang Udjo akan dipatenkan oleh Malaysia.

Berbagai elemen yang berkaitan dengan bambu ditampilkan dalam konsep Music, Art, dan Special Arrangement. Musik menampilkan Bamboo music antara lain angklung, calung, arumba, dan tarling. Jazz break menampilkan Balawan, 4 peniti dan FontiCello.

Konsep Art menampilkan seni bela diri asal Brasil—capoeira, bamboo percusion, dan lain-lain. Sedangkan Special Arrangement menampilkan Bamboo carnivale, yaitu iring-iringan ritual dari 10 kabupaten di Jawa Barat, reog, dugig, dan lain-lain, yang ditampilkan saat pembukaan Braga Festival 2006. Selain itu, digelar pula Food Festival, yang menyuguhkan aneka makanan tradisional khas Jawa Barat. Setiap acara tersebar di beberapa tempat, yaitu di gedung YPK, Braga Citi Walk, Asia Afrika Culture Centre, Museum KAA, gedung PU dan di sepanjang Jalan Braga.

Melalui Braga Festival 2006 ini, tim kreatif Braga Festival mencoba mengangkat dan memopulerkan kembali penggunaan bambu dalam berbagai segi kehidupan. Diharapkan, konsep eco system yang coba diusung bisa memberikan kontribusi positif dalam pelestarian alam sekaligus budaya di Indonesia. Kesenian angklung, sebagai salah satu kesenian tradisional Indonesia, seharusnyalah menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat.

Untuk itu, keberadaan kesenian angklung perlu terus dilestarikan, mengingat terus mengalirnya arus budaya dari luar yang tanpa disadari sedikit demi sedikit akan mengikis nilai-nilai budaya sendiri. Berangkat dari pemikiran inilah, kesenian angklung pun masuk ke dalam serentetan acara yang akan digelar dalam Braga Festival 2006.


Angklung Dan “Capoeira”

Saung Angklung Mang Udjo sebagai lembaga kesenian yang menitikberatkan kesenian angklung dalam penyajiannya, menjadi Laboratorium Pendidikan dan Latihan Kesenian Daerah melalui Bidang Kesenian Daerah Kantor Wilayah Departemen Kesenian dan Kebudayaan Jawa Barat pada 1970. Saung Angklung Udjo juga kemudian ditetapkan sebagai objek pariwisata daerah oleh Dinas Pariwisata Daerah Kota Madya Bandung sejak 1971.

Sementara itu, capoeira merupakan bentuk seni Brasil yang merupakan pencampuran dari elemen-elemen bela diri, akrobatik, tarian, dan musik. Capoeira diciptakan oleh para budak Afrika di Brasil selama masa kolonialisasi Portugis. Capoeira adalah olahraga yang penuh tantangan sekaligus menyenangkan yang dihasilkan oleh harmonisasi antara tubuh dan jiwa, dan merupakan senyawa antara tarian dan pertarungan, iringan musik dari penggunaan instrumen-instrumen maupun suara yang menuntut ketangkasan dan keselarasan mental, fisik dan emosi.

Musik menjadi bagian tak terpisahkan dari capoeira. Instrumennya mulai dari agogo (double gong bell), tambourines, hingga gunga (bas). Kadang ia dilengkapi nyanyian (lagu) yang dimainkan baik dengan tempo lambat (ala Angola) maupun sangat cepat (ala Regional). Isinya bertutur tentang para pendiri capoera terkenal dan kadang tentang cinta. Capoeira umumnya menggunakan gerakan menyerang dan menyapu dengan kaki. Namun, di beberapa tempat latihan, biasa juga menggunakan pukulan dan gerakan akrobatik. Meloncat dan berputar adalah biasa dalam capoeira.

Capoera memiliki aliran yang berbeda. Masing-masing aliran memiliki suhunya, yang juga disebut “Mestre”. Aliran Capoeira Regional punya Mestre Bimba, sedang Capoeira Angola ber-mestre-kan Pastinha.

Parentesco de Capoeira Pakuan Bandung berdiri sejak 25 Februari 2003 di Upad Jatinangor dan merupakan grup pertama yang berdiri di wilayah Bandung. Hingga saat ini Parentesco de Capoeira Pakuan Bandung terus berkembang dengan jumlah anggota yang terus bertambah. Parentesco de Capoeira Pakuan Bandung sering terlibat dalam berbagai event seni, demonstrasi capoeira di sekolah, universitas, festival, acara radio dan televisi.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: