SPANDUK CALEG

RAMADHAN DAN SPANDUK CALEG

Matdon – Pikiran Rakyat, Selasa 16 Juli 2013

prabowo jokowi.1 

Rasulullah SAW selalu menjadi contoh bagi ibadah Ummat manusia, mulai dari ibadah Uluhiyah sampai ibadah sosialiyah. Pun ketika Rasul menjadi (calon) pemimpin, tidak ada satu spanduk pun yang terbentang bertuliskan “Pilih Muhammad, muda dan kreatif”, “Muhammad Is The Best” atau ”Muhammad calon pemimpin masa depan”.

Kalau ada pertanyaan atau pernyataan, kan waktu itu belum ada spanduk apalagi backdrop?, itu pertanyaan dan pernyataan yang salah, Nabi Muhammad bisa saja membuat spanduk dari bendera yang sudah ada zaman itu, atau bisa saja kain yang terbentang di Ka’bah itu dibikin spanduk.  Ketahuilah pada zaman sebelum Nabi Muhammad lahir telah ada lomba menulis puisi, dan puisi puisi yang baik ditempel di Ka’bah, itu artinya sangat memungkinan Nabi Muhammad membuat spanduk. Tapi Nabi Muhammad tidak melakukan itu.

Bahkan lebih dari itu Rasul bisa saja membuat da menciptakan teknologi yang canggih lebih dari sekedar spanduk, kenapa tidak dilakukan? Karena masyarakat waktu itu belum siap dengan teknologi.

Kecanggihan zaman Nabi telah dimulai sejak zama nabi Nuh yang membuat perahu dengan kapasitas 100 orang, Nabi Daud mampu membuat besi menjadi lunak dan membuat alat-alat perang dari besi. (baca Qurab Surat QS Saba ayat 10-11, Surat Al-Anbiyaa’ ayat 80 dan Surat Ali Imran ayat 191). Semuanya hidup di abad Sebelum Masehi.  Apalagi Nabi Nabi Sulaiman yang hidup pada tahun 1000 Sebelum Masehi, beliau menunjukkan kekuatan kepada Ratu Kerajaan Saba’ membawa singgasana Ratu Balqis dari Kerajaan Saba’ di Yaman ke Palestina.

Nah apalagi zaman Nabi Muhammad yang hidup di sekitar tahun 571 – 634 Masehi, Rasulullah bisa saja membuat spanduk tapi itu tidak dilakukannya karena beliau adalah calon pemimpin yang tidak ingin menjadi pemimpin atas keinginan  sendiri, tapi dipiih oleh rakyat. Kaarena itu Rasul tidak pernah berjanji lewat spanduk, kecuali memberikan fatwa dari Allah bahwa orang yang akan masuk surga adalah orang yang menyayangi fakir miskin dan anak yatim.

Salah satu syarat pemimpin yang baik memang tidak menebar janji-janji, apalagi janji itu dipasang dalam teks spanduk, sungguh ini selain menyakitkan mata juga menyakitkan hati rakyat. Karena bagaimanapun juga setiap pemimpin akan ditanya oleh Allah tentang apa yang telah dipimmpinya termasuk menunaikan janji saat kampanye (di spanduk).  Al-Wa’du Dainun – Janji itu adalah hutang. Kelak pemimpin yang hanya mengumbar janji harus bertanggung jawab atas janjinya.

Akan halnya di kota Bandung mungkin juga kota-kota lain di Indonesia, memasuki Ramadhan bulan suci penuh barokah spanduk-spanduk itu bertebaran dimana-mana, terpampamg wajah-wajah calon legislative (Caleg) lengkap dengan teks “Marhaban Ya Ramadhan”, kenapa harus ada wajah untuk mengucapkan itu, kenapa harus pakai spanduk?. Keindahan Ramadhan jadi kotor oleh spanduk spanduk tak jelas itu, karena alih alih bukan ketulusan mengucapkan selamat datang Ramadhan, melainkan spanduk itu dijadikan ajang kampanye dan narsis. Pemimpin yang baik tidak boleh narsis.

Calon pemimpin yang baik adalah mampu mendengarkan rakyat bukan memperkeruh susana Ramadahan dengan spanduk, bayangkan berapa biaya membuat spanduk, saya pikir akan lebih baik jika dana spanduk itu disumbangkan kepada fakir miskin. Sungguh calon pemimpin yang memasang spanduk di bulan Ramadhan ie telah mengabaikan kebutuhan orang lain. Memasang spanduk itu malah terkesan gila hormat.

Calon pemimpin yang memasang spanduk di bulan Ramadhan menandakan bahwa ia tidak mampu menilai prestasi sendiri, ia mengalami risau yang berlebihan alias galau, takut tidak terpilih nantinya. Spanduk-spanduk itu seolah menjadi ciri khas bahwa dia tidak mampu mengendalikan emosi.

Calon pemimpin yang baik harus gembira dengan datangnya bulan suci Ramadhan, termasuk gembjra pula dengan cara tidak memasang spanduk, karena kegembiraan bulan Ramadhan adalah ibadah taraweh yang benar, puasa yang benar, tadarus yang benar dan sodaqoh yang benar. Betul bahwa pemimpin yang baik harus pandai berkomunikasi, tapi bukan bukan komunikasi spanduk, melainkan kumunikasi yang melibatkan banyak orang – bersentuhan  secara langsung .

Kawan baik saya Pungkit Wijaya dari UIN Bandung meyesalkan spanduk-spanduk di bulan Ramadhan, menurut dia setiap moment perayaan apapun sepertinya milik politisi; pemanfaatan kampanye. Selalu bergegas, garda depan menjadi manusia spanduk, ini adalah  hipokrisi.

Spanduk-spanduk berisi slogan dan propaganda itu sungguh perbuatan tidak terpuji, mengotori keindahan Ramadhan yang seharusnya bersih dari hiruk pikuk janji politik. Bersih dari hingar bingar propaganda yang tak jelas. Saya pikir tidak berebihan jika rakyat melihat calon pemimpin demikian sebagai badut sirkus yang tengah mempertontonkan akrobatik politik. Wallahu A’lam Bissawab!

4 komentar

  1. gw Suka tulisan ini..
    Wilujeng Shaum Kang Matdon.. :D

    1. sami sami, nuhun

  2. Semangat! :)

    1. semangat

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.995 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: