NYIAR LUMAR 2010

NYIAR LUMAR YANG TERLANTAR

Matdon-Sinar Harapan Juni 2010

Tahun 1998, seorang sastrawan – tokoh seni di Ciamis Godi Suwarna bersama sejumlah seniman lainnya, mencoba menghidupkan kembali sebuah tradisi karuhun dalam mencari hakikat hidup, melalui  sebuah perhelatan budaya yang dinamai Nyiar Lumar

Dalam bahasa Sunda, Nyiar berarti mencari, sedangkan  Lumar  adalah jamur cahaya. Jika dua kata ini disatukan menjadi Nyiar Lumar yang berarti perjalanan mencari jamur cahaya (makna kehidupan), sebuah tradisi perjalanan kontemplasi bagi warga Kawali Ciamis. Kontemplasi karuhun sunda dalam mencari jati diri.

Acara ini tersendat sendat akibat alasan klasik  yaitu biaya, namun seniman tak pernah mengeluh soal itu, melalui upaya bantuan dan guyubnya para seniman, Nyiar Lumar terus berlangsung dengan segala keterbatasan biaya meski juga sempat terhenti, akhirya diambil keputusan acara ini digelar dua tahun sekali.

Pada acara Nyiar Lumar tahun 2008 lalu, ketika saya  menghadiri acara luar biasa ini, terdengar selentingtan bahwa Nyiar Lumar  terancam batal untuk dua tahun kemudian yakni tahun 2010, ini disebabkan panitia selalu kesulitan mencari dana, bantuan dari pemerintah Jawa Barat tidak ada, bantuan pemda  setempat pun sangatlah minim.

Rupanya mimpi buruk itu terbukti, tiba-tiba Kamis 13 Mei 2010, saya menerima kabar dari Godi Suwarna bahwa Nyiar Lumar ke lima yang seharusnya jatuh pada 29 Mei 2010 gagal dilaksanakan, alasannya tentu, biaya!. Hingga saat ini panitia belum sepeserpun memiliki dana yang memadai, pemerintah setempat dan pemerintah Jawa Barat tidak memberi dana untuk acara sepenting ini. Proposal yang mereka kirim setahun lalu tak berbuah hasil.

Tentu saja kabar ini menusuk jantung, sedih. Acara yang sudah menjadi tradisi dan memiliki  ijtihad budaya yang bagus mengenai tradisi sunda harus hilang – syukur kalau hanya diundurkan bebarapa bulan saja. Dan jika jadwal Nyiar Lumar diundur sambil menanti terkumpulnya biaya, akan mengurangi sakralitasnya dan tidak ritual lagi karena melewati bulan Nyiar Lumar, Mei.

Saya kini sedang menbayangkan bagaimana para pemimpjn kita orasi budaya, berteriak bagaimana  harus melestarikan budaya sendiri, sungguh orasi yang memabukkan, pidato yang hanya enak di telinga, namun menyakitkan hati. Pemerinah hanya bisa menggelar acara seremonial, membangun gedung dewan yang baru, tanpa memikirkan tradisi warisan budaya, mungkin memikirkan juga sih, hanya porsinya 0,5 % dari kepentingan pribadi atau kelomppk.         

                                                          ***

Nyiar Lumar digelar semalam suntuk saat bulan purrnama, di sebuah situs aheng bernama Astana Gede, tarian sunda klasik dipertontonkan pada warga Camis dan sekitarnya, dari luar kota bahkan beberapa bule yang sengaja datang. Ada juga pementasan teater,  Pencak silat, Tarawangsa, Genjring Ronyok Kawali,  dan yang tak lalah ritual adalah Pergelaran Ronggeng Gunung  di Sungai Cibulan.

Nyiar Lumar benar benar telah menjadi tradisi masyarakat Kawali, menjadi semacam pesta rakyat- semacam ruwatan jagat di Situraja Sumedang, atau acara Nyangku di Panjalu, Ciamis dan sejumlah kegiatan budaya di Sukabumi, pesisir pantai Cianjur dll.

Astana Gede adalah salah satu saksi sejarah Kawali, alamnya masih tertata apik. Di sinilah terdapat peninggalan sejarah yang tidak ternilai, ada prasasti peninggalan Kerajaan Galuh yang menjadi cikal bakal Kerajaan Padjadjaran, dan yang menjadi pintu pelestariannya tak lain adalah Nyiar Lumar.

Di inbok Face Book saya, Godi Suwarna menginformasikan,  setiap kali Nyiar Lumar panitia mendapat biaya sekitar 50 juta rupiah, sungguh sangat kecil untuk acara yang besar itu.  Godi pun sudah merasa lelah untuk terus berharap agar sponsor dan pemerintah mau membiaya Nyiar Lumar. Kalaupun pemerintah setempat pernah  memberi bantuan dengan biaya kecil, malah keinginan pemerintah suka berlebihan, ada pejabat yang ingin pidato panjang saat pembukaan, ikut mengatur panitia, dan seterusnya.

Solusi agar Nyiar Lumar tetap berlangsung sebenarnya masih ada, misalnya dengan mencari sponsor jauh sebelum acara berlangsung, atau dikelola oleh Event Organizer (EO), namun EO hanya sebatas mencari dana dengan ketentuan keuntungan materi   telah disepakati dengan panitia, dan EO tidak boleh ikut campur dalam teknis pelaksanaan Nyiar Lumar,  karena banyak juga EO yang tidak faham materi acara namun ikut di dalamnya sehingga tak jarang sebuah acara menjadi rusak.

Bagaimanapun dan apapun bentuknya, tradisi semacam ini dapat membentuk masyarakat yang damai, aman sejahtera, membentuk karakter asli kesundaan yang selalu berada pada koridor silih asah, silih asih, silih asuh. Kehadiran Nyiar Lumar dan acara serupa di Jawa Barat, juga mampu mengajak kaum muda mencintai, menghayati dan mengembangkan seni budaya

Dan sesungguhnya, pembatalan  Nyiar Lumar adalah sebuah “kiamat sugro” bagi kebudayaan sunda, kegiatan yang berpusat di situs Surawisesa (Astana Gede) Kawali yang banyak terdapat peninggalan berupa batu tulis, berisi wangsit karuhun, yang masih tetap bermakna untuk bekal mengarungi kehidupan, menjadi ciciren telah matinya hati para penguasa.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.008 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: